LAWE lahir dari sekelompok orang yang peduli terhadap warisan budaya, khususnya di tangan-tradisi menenun.
Didirikan oleh lima wanita, LAWE ingin mempertahankan tradisi tenun tangan di Indonesia dan sekaligus memberdayakan perempuan, mendorong perempuan untuk berkontribusi dalam memperbaiki penghidupan mereka dan ambil bagian dalam membawa kesejahteraan ke negara ini.
Tas Lurik Etnik yang cantik buatan Lawe
Sejauh ini, lurik yang dijual sebagai selembar kain saja. Salah satu impian kami adalah membuat kain tenun, terutama lurik, sebagai gaya hidup sehari-hari. Ini akan membuat lurik lebih populer dengan masyarakat luas. Lihat di katalog produk Lawe dan menemukan gaya unik dengan nuansa etnis.(http://www.yogyes.com)
Masa depan lurik cerah
Lurik sering dianggap membosankan dan hanya dikenakan oleh generasi tua. Tapi kain telah memasuki baru, menjanjikan, dan sedang berubah menjadi produk yang menarik dan penuh warna. Lurik modern, dengan berbagai desain, sekarang yang diproduksi oleh koperasi Lawe, yang dimiliki Asosiasi penenun Yogyakarta disebut Lawe Asosiasi dibentuk pada tahun 2004.(The Jakarta Post)
Lurik dari Rumah Lawe
Ini adalah beberapa sampel kain Lurik, diproduksi oleh Dewan penerima Lawe, Yogyakarta. (Global Environment Facility Small Grants Programme \'GEF SGP\' Keluarga Indonesia)
Rumah Lawe, seni lurik dalam masa kini
..Didirikan oleh lima perempuan di Indonesia, LAWE ingin melindungi tenun tradisional Indonesia dan memberdayakan perempuan agar dapat berpartisipasi dalam meningkatkan standar kehidupan mereka dan meningkatkan kesejahteraan negara ini..(Langitperempuan/2009)
Didirikan oleh lima wanita, LAWE ingin mempertahankan tradisi tenun tangan di Indonesia dan sekaligus memberdayakan perempuan, mendorong perempuan untuk berkontribusi dalam memperbaiki penghidupan mereka dan ambil bagian dalam membawa kesejahteraan ke negara ini.